By Sellin
Part 1: Disebut Mayat Hidup
Ketika SMP, aku terpaksa pindah dari sekolah. Alasanku pindah pada waktu itu, jarang sekali sekolah yang mempunyai lift yang memudahkan mobilitas. Orang tuaku cuma ingin aku bersekolah, di manapun tempatnya, yang penting sekolah. Setelah berputar-putar mencari, akhirnya sebuah sekolah swasta di kota Bandung, menjadi pilihanku menuntut ilmu sepanjang SMP.
Dan disanalah terjadi sebuah peristiwa tidak terlupakan…
Waktu itu aku berusia sekitar 15 tahun, di kelas delapan. Seorang teman mengajakku untuk bercerita. Dengan polosnya, aku terima saja ajakan tersebut. Karena aku pikir: Apa yang salah dengan cerita? Tapi ternyata kali itu pikiranku salah. Ini, jadi awal mula aku mengenal bahwa ada yang beda dibanding dengan teman-teman yang lain. Itu pula pertama kalinya aku menerima perundungan dari teman seusia.
Temanku ini mengeluarkan pernyataan yang membuat aku sangat kaget. Tanpa basa-basi, dia mengatakan bahwa aku adalah mayat hidup! Bukan cuma itu saja, dengan fasihnya teman ini juga menjelaskan apa maksud dari frasa yang baru saja diucapkan. Bahwa aku ini terlahir kondisi yang berbeda dengan dia dan teman-teman lainnya. Semisal orang tuanya nanti sakit, dia masih bisa menjalankan hidupnya sendiri. Sementara aku? Andai kata orang tuaku sakit, maka aku akan ditinggalkan di atas kasur; dan tidak bisa bersekolah.
“Bukan cuma nggak bisa sekolah, tapi kamu juga nggak bisa ngurus dirimu sendiri. Kalau itu terus terjadi, kamu akan mati dalam waktu tiga hari.”
Setelah mengatakan semua itu, ia pergi begitu saja. Aku tetap belajar seperti biasa hari itu. Yang berbeda adalah sikapku ketika pulang dari sekolah. Hari itu, aku nggak mau bicara lagi dengan siapapun seharian.
Di rumah, mengunci diri di dalam kamar. Aku fokus melihat cermin. Tersadarlah aku bahwa memang aku terlahir berbeda. Selama ini, aku tidak menyadarinya karena tidak pernah dibuka secara gamblang. Semakin aku memandang cermin, kata-kata temanku di sekolah tadi, rasanya makin masuk, menancap begitu dalam: Aku ini mayat yang hidup!
Pertama kali aku merasa begitu benci dengan diriku sendiri. Aku juga marah besar dengan Mami. Aku merasa ditipu dan tertipu, karena Mami tidak mau mengungkapkan fakta ini secara langsung padaku sebelumnya. Sampai aku harus mendengar fakta dari temanku dan dengan cara demikian. Cukup lama juga tidak mau berbicara dengan Mami waktu itu.
Part 2: Bertanya soal Kaki
Ketika hati sudah mulai tenang, aku coba bertanya: Kenapa Mami menyembunyikan hal ini dari aku? Setelah kejadian itu, mulai banyaklah pertanyaanku mengenai diriku sendiri. Semisal apa fungsi kaki bagi orang yang tak dapat berjalan sepertiku. Apa maksud Tuhan di balik hal ini. Dan banyak pertanyaan lain aku selalu tanyakan ke Mami. Mami jadi sedikit kewalahan dengan pertanyaanku.
Supaya nggak bingung sendiri, aku diajak konseling kepada pendeta. Alih-alih aku mendapatkan jawaban yang memuaskan dan melegakan, aku malah mendapat penolakan dari sang pendeta. Ya, teman-teman tidak salah membaca. Yang aku dapatkan waktu itu memang adalah penolakan. Pertanyaanku ditolak oleh beliau, mengatakan itu adalah pertanyaan yang tidak penting untuk kutanyakan. Tak perlulah aku memikirkan hal itu.
Bagiku yang berusia 15 tahun waktu itu, penjelasan beliau adalah jawaban yang aneh dan nggak masuk akal. Masalahnya, pertanyaanku waktu itu adalah sesuatu yang sedang membuatku sungguh-sungguh bingung; dan tujuan utama aku bertemu beliau adalah untuk mencari jawabannya. Aku malah jadi makin penasaran: Apa yang salah dengan kegelisahan ini? Kenapa hal ini justru tidak boleh mempertanyakannya?
Rasa penasaran yang besar, ini membuat aku jadi ingin mengajak pendeta lain untuk berdiskusi. Karena aku sadar bahwa pertanyaan ini memang seharusnya bisa dijawab dan dijelaskan oleh seorang pemuka agama, disertai penjelasan teologis di dalamnya. Kebetulan, waktu itu aku juga cukup akrab dengan seorang pendeta lain di sinode gereja kami, aku biasa menyapanya Oom D.
Oom D mengatakan bahwa alasan utama kenapa Tuhan tetap menciptakan aku dengan kaki yang lengkap meskipun aku tidak bisa berjalan, adalah karena Tuhan sangat sayang aku.
“Dengan kondisi seperti ini saja, Sellin sudah menerima perundungan dari lingkungan sekitar. Coba bayangkan kalau Sellin terlahir tanpa kaki, pasti lebih hebat lagi perundungan yang dialami. Adanya kaki yang lengkap dalam tubuh Sellin adalah bukti nyata kasih Tuhan,” begitu penjelasan Oom D waktu itu.
Percakapan kami waktu itu, ditutup dengan sebuah pesan penting dari Oom D untuk aku. Beliau mengatakan: “Jadi sekarang, Sellin jangan bingung lagi. Hiduplah dengan sukacita dan gembira, karena Tuhan Yesus sangat sayang sama Sellin.”
Masih banyak lagi percakapan kami yang sangat bermakna, yang kemudian menolong pertumbuhan imanku. Tapi sebenarnya ini bukan soal jawaban Oom D itu pas atau tidak. Yang pasti, sejak percakapan itu dan penjelasannya, aku semakin menyadari bahwa aku ini adalah pribadi yang sangat dikasihi Tuhan. Keberadaanku dalam dunia ini adalah penting dan bermakna. Karena keberadaanku penting dan bermakna, jadi aku harus terus berjuang dan berkarya.
Part 3: Tidak Harus Berdiri
Aku juga pernah bertanya pada Oom D soal ritus ibadah. Dalam tradisi Protestan, di setiap ibadah Minggu ada saat kita harus mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli, dan orang pada umumnya berdiri tegap dengan sikap sempurna, ketika mengungkapkannya.
Suatu hari aku bertanya: “Terus aku kan nggak bisa berdiri. Jadi gimana dong Oom?”
Oom D tersenyum dan mencoba menjelaskan.
“Ya nggak masalah nggak berdiri. Sellin kan kakinya nggak berdiri karena memang nggak bisa berdiri. Tapi hatinya? Tuhan yang lihat bahwa hati kamu berdiri di hadapan Tuhan. Hati yang berdiri di hadapan Tuhan, lebih penting daripada kaki yang berdiri di hadapan manusia. Tuhan melihat hatimu yang tulus dan sungguh-sungguh menyatakan pengakuan iman itu.“
Jawaban ini, meski sederhana, sangat bermakna dan memenangkan aku. Dari sanalah, aku kemudian memahami bahwa Tuhan selalu punya cara yang ajaib untuk menunjukkan kasih-Nya pada setiap orang. Keterbatasan fisik seseorang, tidak pernah membatasi kasih Tuhan terhadap orang itu. Tuhan punya seribu macam cara yang tidak bisa dipahami oleh manusia, untuk merengkuh setiap orang yang rapuh namun berharga.
Maka sebagai insan disabilitas, saat ini aku dengan yakin bisa mengatakan bahwa kondisi fisik ini, tidak pernah bisa menjadi alasan bagi Tuhan, untuk tidak menyatakan kasih-Nya padaku. Sama seperti yang aku sudah katakan, selama hidup ini aku punya tugas untuk menceritakan dan menyatakan kasih kepada dunia, di mana Tuhan menempatkan aku. Sehingga orang-orang lain, bisa melihat dan merasakan kasih Tuhan yang nyata; lewat kehadiran aku di tengah dunia ini.
Tugas inilah yang harus jadi fokus aku dalam hidup. Orang bisa berkata dan bercerita banyak hal tentang kelemahan yang aku punya, tapi cerita-cerita itu tidak akan pernah bisa melemahkan iman dan cinta kasih aku pada Tuhan dan sesama.
Demikian ceritaku kali ini, cerita dari insan disabilitas yang sangat dikasihi oleh Allah.
Salam setara, Tuhan Yesus memberkati.
Penulis: Sellin (insan disabilitas dengan spektrum Cerebral Palsy)
Editor: Risdo Simangunsong
Cerita ini mewarnai peringatan Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember 2025. Selamat Hari Disabilitas Internasional, teman-teman. Semoga kita semua dapat menemukan kebahagiaan dan ketenangan dalam kondisi apa pun yang sedang kita jalani.



