Ruang Aman Lintas Iman untuk Membicarakan Trauma Religius
Sebagai bagian dari rangkaian Kampanye Bandung Lautan Damai (BaLaD), JAKATARUB bersama WCC Pasundan Durebang, PSPP Nawang Wulan, Panggung Minoritas, Intimuda Jawa Barat, dan Koalisi Pendukung HAM (KOPENHAM) menyelenggarakan diskusi bertajuk “Ngajajak Trauma, Ngadegkeun Raga Waruga (Menelusuri Trauma, Menguatkan Jiwa dan Raga)” di Youth Center Bumi Silih Asah St. Thomas Aquinas, Kota Bandung pada Sabtu (13/12/2025).
Kegiatan ini dihadiri lebih dari 50 peserta dari berbagai latar belakang identitas dan iman. Diskusi ini bertujuan membuka ruang aman lintas iman untuk membahas pengalaman religius trauma serta mendorong pendekatan Hak Asasi Manusia (HAM) tanpa permusuhan dalam merespons keberagaman serta bagaimana praktik-praktik keagamaan tidak hanya memberikan perdamaian dan ketenangan tetapi juga memberikan luka.
Memahami Trauma Religius dari Perspektif Pendampingan dan Akademik
Sesi diskusi menghadirkan Pdt. Obertina M. Johanis, M.Th dari WCC Pasundan Durebang dan Febi Rizki Ramadhan, Ph.D, dosen Antropologi Universitas Indonesia. Obertina menjelaskan bahwa religius trauma kerap muncul akibat pengalaman kekerasan, penolakan, dan penggunaan narasi keagamaan sebagai alat kontrol. Trauma tersebut dapat terjadi di institusi keagamaan maupun dalam keluarga, serta berdampak pada kesehatan mental jangka panjang. Menurutnya komunitas keagamaan perlu melakukan refleksi kritis dan menempatkan diri sebagai ruang pemulihan, bukan penghakiman. Ia menegaskan pentingnya pendampingan yang berempati dan berpihak pada korban.
Sementara itu, Febi memaparkan bahwa trauma religius juga dialami oleh individu ragam gender dan seksualitas akibat dominasi heteronormativitas dan cis-normativitas dalam praktik keagamaan. Ia menjelaskan bahwa trauma dapat muncul baik dari proses doktrinisasi maupun ketika individu memutuskan keluar dari komunitas agama.
Meski belum menjadi suatu kategori ilmiah resmi dalam dunia psikologi, trauma religius diakui memiliki keunikan tersendiri karena kaitannya dengan identitas, rasa bersalah serta sisi sosio-emosional dari para penyintasnya.
Cerita Penyintas dan Komitmen Merawat Solidaritas
Diskusi ini juga menghadirkan cerita penyintas dari berbagai latar belakang dengan nama “Cafe Survivor”, termasuk pengalaman terapi konversi, diskriminasi terhadap kelompok kepercayaan, penolakan rumah ibadah, pengalaman penyandang disabilitas, serta pergumulan identitas dan iman.
Sebagai penutup, kegiatan ini dilengkapi dengan sesi relaksasi untuk membantu peserta melepaskan ketegangan emosional, serta doa lintas iman sebagai simbol komitmen bersama dalam membangun ruang aman dan solidaritas.
Melalui kegiatan ini, JAKATARUB berharap dialog lintas iman yang berperspektif HAM dapat menjadi langkah konkret dalam merespons trauma, memperkuat empati, dan merawat keberagaman tanpa permusuhan.
Editor: Risdo Simangunsong



