Pelatihan Advokasi dan Kampanye Publik LBH Bandung
Pengurus JAKATARUB turut hadir dalam pelatihan advokasi dan kampanye publik yang diselenggarakan LBH Bandung, pada Sabtu-Minggu (29-30/112025). Pelatihan ini diikuti sejumlah pegiat muda dari berbagai komunitas mulai dari pegiat lintas agama, kesetaraan gender, agraria juga pegiat demokrasi dan kemanusiaan lain.
Dalam satu ruang, peserta yang berbeda latar belajar memahami kampanye sebagai strategi bertahan sekaligus melawan. Perbedaan latar isu justru memperlihatkan satu kesamaan. Dalam refleksi, peserta menyadari setiap advokasi yang kritis akan kebijakan negara berpotensi dianggap sebagai ancaman.
Materi awal menyoroti mitigasi risiko dalam aksi dan advokasi, dimana ada intensitas risiko rendah, sedang, hingga besar. Intensitas risiko tersebut tergambar dalam sejumlah studi kasus yang dibahas mulai dari pembatalan karya seni, pelarangan diskusi, hingga penyerangan kegiatan keagamaan. Ini agar para pegiat menjadi lebih waspada dan terukur sebelum bergerak.
Kampanye, Hak Digital, dan Pentingnya Keamanan
Pembahasan berikutnya menekankan pentingnya pemantauan hak kebebasan berekspresi, berkumpul, dan berorganisasi. Pendamping advokasi dituntut bersikap kritis dan empatik. Keamanan korban dan kepastian hukum harus menjadi fokus utama. Peserta diajak melihat kompleksitas tantangan masyarakat sipil hari ini, bukan sebagai beban, tetapi sebagai tanggung jawab bersama.
Isu hak digital menjadi bagian penting lainnya. Data dipahami sebagai alat advokasi sekaligus potensi ancaman. Para pegiat perlu memahami jerat hukum seperti UU ITE dengan sejumlah pasal karet. Kampanye harus berbasis data yang kuat. Pendidikan hukum, cek fakta, pencantuman sumber, dan pemilihan kata menjadi penentu arah perjuangan.
Materi kampanye dan propaganda media meninggalkan kesan mendalam. Kampanye dipahami sebagai persaingan narasi. Solidaritas menjadi kekuatan utama gerakan sosial di Indonesia. Kunci semangat kritis adalah narasi yang kuat.
Pembahasan ditutup dengan isu keamanan digital. Ancaman hadir di ranah fisik, digital, dan psikososial. Tidak ada sistem yang sepenuhnya aman. Keamanan sangat bergantung pada perilaku dan konteks. Peserta belajar mengurangi jejak digital, melindungi identitas, mengelola akses, dan mengenali serangan teknis maupun non teknis. Pelatihan ini mengingatkan bahwa advokasi tidak hanya soal keberanian, tetapi juga kesiapan dan kehati-hatian.
Bagi JAKATARUB pelatihan ini menegaskan bahwa advokasi selain membutuhkan keberanian, juga kesadaran penuh. Narasi yang tepat, data yang kuat, dan kewaspadaan adalah bekal utama. Pegiat kemanusiaan lintas isu perlu saling menjaga, dan memastikan perjuangan tetap hidup tanpa mengorbankan keselamatan.
Editor: Risdo Simangunsong



