Penguatan HAM, Teknologi Digital, dan Literasi Demokrasi bagi Kaum Muda Jelang Pemilu 2029

Share On Your Social Media

JAKATARUB mengikuti pelatihan bagi aktivis muda dan jejaring masyarakat sipil, yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM). Kegiatan ini berlangsung pada Rabu-Jumat (12-14/11/2025) di Jakarta dan dihadiri oleh perwakilan kaum muda dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Pontianak. 

Pelatihan bertujuan memperkuat literasi demokrasi digital, memahami irisan antara Hak Asasi Manusia (HAM) dan teknologi, serta mengidentifikasi risiko manipulasi politik pada Pemilu 2029. Ini merupakan respons terhadap tantangan demokrasi Indonesia hari ini dimana kemunduran kualitas pemilu, masifnya penetrasi teknologi digital, risiko penyalahgunaan data pribadi, serta menguatnya praktik politik populisme semakin dirasakan.

Tantangan Demokrasi di Era Digital

Demokrasi Indonesia semakin dipengaruhi teknologi digital. Sejumlah persoalan muncul, mulai dari kebocoran data pemilih, misinformasi, hingga praktik micro-targeting yang menyasar pemilih muda melalui pesan politik tertarget. Warga penting untuk memiliki kemampuan kritis memahami cara kerja algoritma serta bagaimana informasi politik disebarkan secara masif.

Ada perubahan besar dalam kampanye digital yang kini bergeser dari penyebaran informasi menuju industri pengaruh yang berfokus pada pembentukan emosi dan perilaku pemilih. Industri ini memanfaatkan data pribadi untuk menghasilkan propaganda visual dan pesan politik yang dipersonalisasi.

Populisme dan Risiko Micro-Targeting

Strategi populisme yang menyederhanakan masalah dengan membelah warga menjadi “kita” dan “mereka” memunculkan bahaya baru. Narasi populis sering mengutamakan isu populer demi menarik dukungan cepat, mengesampingkan hak kelompok rentan. Pola ini bertentangan dengan prinsip HAM yang menekankan keadilan, kesetaraan dan pemenuhan hak secara menyeluruh.

Praktik micro political targeting juga dipandang mencederai prinsip kesetaraan informasi, karena pesan politik diterima berbeda berdasarkan profil data seseorang. Risiko manipulasi semakin besar ketika pengaruh itu tertarget pada individu.

Pada pemilu 2029 nanti kampanye digital diperkirakan akan semakin bergantung pada generative AI dan predictive AI, diperkuat oleh micro-influencer dan media tidak resmi. Ketergantungan ini membawa risiko baru berupa bias algoritma yang dapat memperkuat stereotip dan diskriminasi berbasis data.

Akuntabilitas data juga menjadi perhatian. Kasus pencatutan KTP dan lemahnya implementasi Undang-undang Perlindungan Data Pribadi menunjukkan perlindungan privasi masih jauh dari ideal. Karena itu, perlu batasan etis yang jelas, termasuk pelarangan micro-targeting dan penanda khusus pada konten berbasis AI.

Perspektif Kaum Muda

Bagi JAKATARUB, pelatihan ini menjadi ruang perjumpaan yang membantu melihat lebih jelas bagaimana situasi demokrasi Indonesia hari ini bersinggungan dengan prinsip HAM, keberagaman, dan kebutuhan akan ruang publik yang aman bagi semua. Teknologi tidak berdiri sendiri namun memengaruhi cara identitas agama dan kelompok rentan dibingkai, dibicarakan dan sering kali dipolarisasi di ruang digital. Pelatihan kembali mengingatkan bahwa populisme masih menjadi strategi yang mudah dijual menjelang pemilu, mengesampingkan hak-hak kelompok lain yang membutuhkan.  

Editor: Risdo Simangunsong


Share On Your Social Media
Ucu Cintarsih
Ucu Cintarsih
Articles: 17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *