Resiliensi sebagai Nafas Perjuangan
Resiliensi merupakan kata yang belakangan kian berseliweran dalam diskusi, program hingga prioritas di kalangan pegiat isu kemanusiaan Indonesia. Setidaknya kata itu dipakai dalam beberapa konteks: mitigasi bencana, kelestarian lingkungan, kesehatan mental, ketimpangan sosial-ekonomi, maupun perjuangan masyarakat demokratis menghadapi represi.
Pegiat lintas iman mungkin juga kini lebih sering menggunakan kata tersebut. Meski frasa dengan nuansa optimis seperti membangun kerukunan, bina damai, mediasi/transformasi konflik, moderasi beragama atau frasa ideal seperti kebebasan beragama dan berkeyakinan masih terbilang lebih populer, penekanan pada resiliensi agaknya punya cerita tersendiri sekarang.
Resiliensi merupakan kata yang kuat. Selain menggambarkan ideal perjuangan, juga menyorot perasaan tertekan, terluka serta upaya realistis untuk menjadi tangguh, tahan sekaligus tanggap dalam perjalanan perjuangan itu. Kata ini semakin terasa relevansinya jika kita belum bisa optimis, bahkan mungkin akan lebih pesimis, terhadap kondisi masa depan. Juga terhadap pihak besar atau elite yang kita harap bisa memperbaiki situasi.
Untuk konteks Indonesia, tentu saja itu terasa. Di situasi negeri kita belakangan, kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah dan perilaku pejabat publik, kekhawatiran akan semakin meningkatnya represi, serta pandangan pesimis terhadap pertumbuhan ekonomi mungkin membuat masyarakat semakin berpikir akan pentingnya mengusahakan resiliensi.
Di isu lintas iman, adanya aturan baru seperti tindak pidana terhadap agama dan kepercayaan dalam KUHP Nasional, masih mendatangkan kekhawatiran, meski diklaim mendorong perlindungan. Demikian pula penanganan kasus pelanggaran kebebasan beragama-berkeyakinan atau komitmen pemerintah atasnya, belum menunjukkan kemajuan meyakinkan.
Menguatkan Gerakan Akar Rumput
Maka dari itu wajar sekali jika pegiat lintas iman menoleh pada resiliensi masyarakat. Mendorong agar akar-rumput untuk semakin inklusif dan toleran, sekaligus agar para penyintas diskriminasi dan intoleransi menjadi semakin berdaya. Tidak melulu berharap pada skala makro dan berfokus pada pemegang kekuasaan.
Tapi ini bukanlah langkah kehilangan harapan. Dalam perspektif umat beriman, ini bisa jadi jalan kembali pada spiritualitas ugahari yang mungkin telah kita tinggalkan. Menghargai pengalaman perubahan kecil individu dan komunitas alih-alih silau mengharap perubahan besar. Merayakan inisiatif baik dan suara kecil dari kelompok marginal alih-alih melulu berharap pada elite dan penguasa. Serta menekuni proses berliku dan penuh tantangan, alih-alih memuja kemajuan simbolik prosedural.
Barangkali di situasi seperti ini, gerakan lintas iman bisa membantu menuntun dan membekali sekaligus dikoreksi oleh jalan spiritual menuju resiliensi masyarakat…



