Peluncuran Indeks Kota Toleran 2025 oleh Setara Institute
JAKATARUB mendapat ruang cukup istimewa dalam peluncuran Indeks Kota Toleran 2025 (IKT 2025). Bersama Yayasan Metamorfosis yang mewakili Bogor dan Rumah Moderasi Beragama UIN Imam Bonjol yang mewakili Padang, jejaring lintas iman ini hadir membawa cerita dari Bandung, sebagai kota dengan dinamika masyarakat sipil yang terus bergerak mempromosikan toleransi.
Peluncuran IKT 2025 yang diselenggarakan oleh SETARA Institute pada Rabu (22/04/2026) di Artotel Mangkuluhur, Jakarta Selatan, menjadi momentum untuk mengapresiasi kota-kota dengan capaian toleransi tertinggi sepanjang tahun. Sepuluh kota dengan skor tertinggi tahun ini adalah Salatiga, Singkawang, Pematang Siantar, Semarang, Bekasi, Sukabumi, Magelang, Kediri, Tegal, dan Ambon, yang masing-masing menunjukkan praktik baik dalam merawat keberagaman. Selain dihadiri pemerintah kota dan masyarakat sipil, acara juga dihadiri perwakilan lembaga negara seperti Kemendagri, Kemenag, BNPT, Kepolisian RI, BPIP, Komnas Perempuan, Komisi Disabilitas Nasional dan Komnas HAM.
Penilaian indeks ini didasarkan pada empat indikator utama, yaitu: regulasi pemerintah (rencana pembangunan dan kebijakan), regulasi sosial (peristiwa intoleransi dan dinamika masyarakat sipil), tindakan pemerintah (pernyataan pejabat dan tindakan nyata terkait intoleransi), serta kondisi demografi sosio-keagamaan (heterogenitas masyarakat dan inklusi sosial keagamaan). Kombinasi indikator tersebut memberikan gambaran utuh tentang bagaimana toleransi tidak hanya dibangun melalui kebijakan, tetapi juga melalui interaksi sehari-hari di tengah masyarakat.
Tidak hanya menyoroti kota-kota dengan capaian tinggi, SETARA Institute juga memberikan apresiasi bagi kota-kota yang tengah berproses, baik dalam tahap berkembang, konsolidasi, maupun menuju kematangan. Dalam konteks ini, Padang, Bogor, dan Bandung mendapat pengakuan khusus atas peran aktif masyarakat sipilnya dalam mempromosikan toleransi.
Peran JAKATARUB dan Masyarakat Sipil di Bandung

Bagi JAKATARUB, apresiasi ini menjadi pengingat bahwa upaya merawat keberagaman adalah kerja panjang yang penuh tantangan. Selama lebih dari dua puluh lima tahun perjalanan, berbagai capaian memang pernah diraih, namun setiap pengakuan selalu datang bersamaan dengan tanggung jawab baru.
Penghargaan ini melengkapi sejumlah apresiasi sebelumnya seperti Ikon Prestasi Pancasila (BPIP 2020), Bumi Silih Asih Award (Keuskupan Bandung 2022), dan Intercultural Achievement Award (Austrian Federal Ministry for European and International Affairs 2023). Lebih dari sekadar pencapaian, momen-momen ini menjadi semacam oase, memberi jeda untuk merefleksikan perjalanan, sekaligus menguatkan langkah di tengah realitas intoleransi dan polarisasi yang masih ada.
Secara khusus bagi Bandung, yang dalam laporan IKT 2025 berada di peringkat ke-17, pengakuan ini bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi ajakan terbuka untuk memperkuat kolaborasi yang kritis dan konstruktif antara masyarakat sipil, pemerintah, serta berbagai kelompok warga.



