Seren Taun dan Seruan Tegas bagi Kebebasan Beragama

Share On Your Social Media

Belasan perempuan menyunggi buyung di kepala sembari membawa dan menginjak kendi dalam gerakan tari yang begitu harmonis dan seimbang. Tari Buyung merupakan salah satu ritual seni yang selalu ada dalam upacara Seren Taun Cigugur, termasuk dalam kegiatan Seren Taun kali ini yang menggelar puncak acaranya pada Senin (08/06/2026) di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Seren taun, bagi penghayat kepercayaan tradisional Sunda di Cigugur memang punya makna mendalam, lebih dari sekadar pesta panen. Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR), mempraktikkan seren taun sebagai momen merefleksikan kembali hubungan manusia, alam dengan Sang Pencipta, sekaligus solidaritas sosial untuk masyarakat yang adil dan sejahtera. Itu pula yang tercermin dalam tema Seren Taun kali ini, “Merawat Prasasti Peradaban Budaya untuk Masa Depan Bangsa.

JAKATARUB menghadiri momen syukur ini bersama puluhan organisasi kemanusiaan di tingkat nasional dan Jawa Barat, bersatu dengan semangat guyub warga Cigugur. Momen ini juga jadi ruang perjumpaan dan konsolidasi isu-isu kemanusiaan, termasuk isu kebebasan beragama. Apalagi, dalam waktu belakangan masih terjadi kembali sejumlah pelanggaran kebebasan beragama.

Kejadian seperti penyegelan rumah doa POUK Tesalonika Tangerang, persekusi atas ibadah GMS Bantul, pembakaran padepokan STJ di Tasikmalaya, hingga yang terbaru pembubaran perkemahan JAI di Karanganyar, serta sejumlah peristiwa sebelumnya di tahun ini ditambah banyak persoalan menahun terkait hak sipil dari kelompok rentan agama, termasuk warga AKUR Cigugur, adalah bukti bahwa negara belum mengadopsi peradaban yang adil dan menerima keberagaman. Peradaban yang sebenarnya sejak dahulu sudah menjadi karakter utama bangsa.

Dewi Kanti, ketua panitia Seren Taun kali ini, menegaskan hal serupa dalam konferensi pers kegiatan. Ia menyayangkan sikap negara yang masih membisu untuk membela hak sipil sejumlah warganya.

Kita tidak ingin mempermalukan bangsa ini, sebab kita ini punya Pancasila. Sudah waktunya kita kembali pada jati diri bangsa kita yang beradab dan menerima kebhinnekaan,” ungkapnya tegas.

Di titik ini, Seren Taun bukanlah sekadar momen seremonial, melainkan teguran keras untuk kembali menguatkan penerimaan atas keberagaman. Seirama tari buyung yang menegaskan keseimbangan relasi diri, alam, dan masyarakat. Tari jamparing sekar kinasih yang memanahkan cinta kasih dan kebaikan bagi semua manusia, sebagaimana memeron yang diarak sebagai ucapan syukur. Semuanya mencontohkan bagaimana bangsa yang beradab itu menunjukkan kesetaraan dan keadilan.


Share On Your Social Media
Risdo Simangunsong
Risdo Simangunsong
Articles: 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *