Ada program agak panjang yang dikerjakan oleh Iteung Gugat bersama PSPP Nawang Wulan dan JAKATARUB sejak Februari lalu. Program ini berupaya mengisi celah atas ragam upaya pelestarian lingkungan yang pernah dikerjakan bersama banyak lembaga.
Kegiatan ini berupa konsolidasi, pembuatan modul, dua kali pelatihan, serta refleksi dan pameran yang bertajuk Ajaning Rasa Buana. Dengan dukungan dari Wahid Foundation, Temasek Foundation beserta Komunitas Penghayat Budidaya dan beragam komunitas se-Bandung Raya, Iteung bersama JAKATARUB mencoba menambahkan sesuatu yang sangat kritis dalam diskursus isu lingkungan.
“Selama ini kita sering melihat kampanye dan aksi lingkungan, meskipun baik dan penting, sering kali terasa belum cukup. Ada ‘gap’ yang besar,” ungkap Hana, mewakili Tim Iteung.
Modul pembelajaran Iteung mengajak berefleksi. Bagaimana mungkin manusia pandai mengelola sampah, tapi belum pandai mengendalikan nafsu konsumsi. Ramai di media sosial, tapi sepi dalam mengubah gaya hidup. Menyentuh gejala teknis, tapi belum menjangkau akar masalah yang lebih dalam. Apa sebenarnya yang hilang? Mengapa manusia bisa begitu rakus merusak sumber kehidupannya sendiri? Mengapa rasa memiliki dan cinta pada alam semakin luntur?
Inilah yang kemudian para teolog modern coba gali dengan konsep eko-teologi. Krisis besar lingkungan dimulai saat alam tidak lagi dilihat sebagai ciptaan yang sakral, komunitas kehidupan, atau tanda kehadiran Yang Ilahi, melainkan hanya sebagai sumber daya, mesin, dan komoditas.
“Uniknya, kesatuan teo-antropho-kosmik dalam memandang relasi alam, Yang Ilahi dan manusia itu telah lama disadari nenek moyang kita dalam menghidupi agama Nusantara,” ungkap Cakra Agranata, dari Komunitas Penghayat Budidaya. Cakra menegaskan hal itu pula yang mendorong kolaborasinya bersama Iteung Gugat dan merumuskan program ini.
“Kalau boleh disebut, ini justru modal besar kita. Nusantara punya pandangan eko-teologinya sejak lama, yang tercermin dalam hampir semua ritual dan laku keseharian, seperti menanam, berpakaian, mempersembahkan sajen, memanen, lesung, seni, serta banyak artefak budaya keseharian lainnya,” lanjut Cakra.
Pendekatan Iteung terbilang unik. Setelah berkonsolidasi dan menyusun modul bersama gerakan-gerakan keagamaan yang mendorong kelestarian lingkungan, digelar dua kali pelatihan live-in, di mana peserta belajar secara konseptual, praktik menanam dan memanen, serta mempelajari ragam artefak budaya yang mengajarkan relasi manusia dengan alam. Puncaknya adalah pameran yang diselenggarakan bertepatan dengan momen peringatan Hari Pancasila, yang merupakan agenda tahunan komunitas Penghayat Budidaya, pada Minggu (31/05/2026).
“Boleh dibilang ini pendekatan yang komplit menyentuh banyak aspek sekaligus menantang sekali,” ungkap Ai Siti, salah satu peserta, dalam refleksinya.



