Youth Sexual and Reproductive Health and Rights Camp: End The Taboos!

Share On Your Social Media

Yayasan SAPA bekerjasama dengan Ruang Temu Generasi Sehat (RUTGERS) Indonesia menyelenggarakan “Youth Sexual and Reproductive Health and Rights Camp: End The Taboos!” pada Jumat-Minggu (21-23/7/23). Kegiatan tersebut dilangsukan di Taman Wisata Kebon Pines Jl. Genteng Lapang Jend, Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

JAKATARUB bersama 15 komunitas, organisasi dan lembaga lainnya turut diundang untuk mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Peserta kemah ini merupakan remaja dan orang muda dengan rentang usia 15-30 tahun.

Pembahasan Hak dan Kesehatan Seksual & Reproduksi (HKSR) ini dikemas dalam konsep kemah yang menarik dan kreatif. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dengan komposisi usia dan asal komunitas yang ragam. Kelompok terdiri dari dua kategori, yakni kelompok diskusi dan kelompok tenda. Pada beberapa kesempatan, kelompok diskusi dikumpulkan di halaman terbuka sekitar pelataran kemah untuk melangsungkan diskusi dan sharing seputar 12 HKSR menurut pengalamannya masing-masing dengan didampingi oleh seorang fasilitator.

Diskusi ini berjalan santai dan cair. Perbedaan usia, asal komunitas, profesi dan status serta keragaman pengalaman mampu menghasilkan kekayaan perspektif. Selain diskusi, kegiatan kemah juga dipadukan dengan serangkaian aktivitas lainnya seperti senam, games, penampilan kreasi seni, outbond dan tukar kado.

Edukasi yang selama ini banyak dilakukan di forum-forum dalam ruangan, diantara meja dan kursi-kursi serta layar presentasi, nyatanya sangat memungkinkan untuk dikemas dengan cara kreatif lainnya seperti yang ditawarkan oleh kegiatan ini. Tema yang diangkat mewakili keresahan tentang terbatasnya kesempatan bagi orang muda untuk mendiskusikan persoalan seksualitas dan reproduksi karena dianggap belum cukup matang.

Sri Mulyati, ketua Yayasan SAPA menjelaskan bahwa kegiatan ini mencoba mengkritisi anggapan di sebagian masyarakat bahwa persoalan hak kesehatan seksual dan reproduksi dirasa tidak wajar bila dibicarakan di depan publik. Begitu juga di kalangan orang muda, pembahasan tersebut sering dianggap tabu karena mereka dinilai belum cukup matang dan pantas untuk mendiskusikan seksualitas dan reproduksi.

“Padahal pada gilirannya ketidaktahuan tentang hak kesehatan seksual dan reproduksi meningkatkan kecenderungan masalah seksual dan reproduksi di kalangan orang muda” tutur Sri. Ia berharap lewat model kegiatan seperti ini, anggapan tabu yang tidak perlu seperti itu dapat pelan-pelan diterobos.

Penulis : Risdayanti

Editor : Risdo Simangunsong


Share On Your Social Media
adminjakatarub
adminjakatarub
Articles: 186

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *